Rasulullah saw adalah figur yang mampu mendidik murid-muridnya dari segala kalangan (keluarga dan sahabat-sahabatnya). Rasul telah mencontohkan sistem pendidikan yang luar biasa. Sahabat dapat berkembang sesuai dengan kemampuan dan bidangnya masing-masing. Sahabat yang berbakat di bidang ekonomi berhasil menghidupkan perekonomian model Islam. Di antara mereka ada yang ahli perang, ahli pembangunan, ahli hukum dan lain-lain. Pendidikan rasul mampu merubah dari seorang budak yang minder menjadi orang percaya diri, dari penggembala kambing menjadi pembaca quran terbaik, dari seorang miskin menjadi perawi hadits dan lain-lain.
Rasulullah mendidik dalam segala usia, tidak membuang buang waktu menunggu dewasa. Rasulullah mampu memunculkan tokoh tokoh di usia yang masih sangat muda seperti Ali bin Abi Thalib ra dan Usamah bin Ziyad ra. Rasulullah dalam mendidik tidak dibatasi jam, pendidikan bias berlangsung 24 jam. Metodenya pun bervariasi dan diberikan dalam suasana penuh kasih saying tanpa ada tekanan.
Rasulullah dalam mendidik sangat memperhatikan proses. Kadang membutuhkan waktu cukup lama. Tidak cukup hanya sehari, dua hari atau satu tahun. Sebagaimana Rasulullah menyuruh orangtua untuk mendidik salat bagi anak-anaknya dengan sabdanya : “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan salat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka bila pada usia sepuluh tahun tidak mengerjakan salat” (HR. Abu Dawud).
Rasulullah dalam mendidik selalu tanggap terhadap setiap masalah namun tidak bersifat reaktif. Teguran dilakukan dengan hikmah dan menumbuhkan kesadaran. Pilihan dan sajian bahasa juga disesuaikan dengan kondisi peserta didik. “Khotibin naasa ‘ala ‘uqulihim” (berbicara pada manusia menurut kadar akalnya).
Sungguh banyak kisah-kisah yang menunjukkan Rasulullah sebagai pendidik sejati. Berikut ini beberapa contoh saja yang disajikan :
1. Mengajari anak-anak dengan lembut dan sistematis.
Contoh ketika Rasulullah melihat anak makan tidak tertib. Umar bin Abi Salamah ra menceritakan, Aku dahulu sewaktu kecil di bawah bimbingan Rasulullah shallallohu alaihi wasallam, sewaktu aku makan tanganku bergerak ke seluruh sisi dari piring besar yang kami gunakan, lalu Rasulullah saw bersabda: “Wahai anak kecil, ucapkanlah basmalah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah yang dekat darimu”. Umar bin Abi Salamah ra berkata sejak saat itu begitulah tata cara aku makan. (HR. Bukhari dan Muslim)
Disini Rasulullah tidak reaktif dengan langsung menghardik dan memarahi anak. Namun Rasul memanggil dulu dengan kalimat “Ya Ghulam” (Wahai Anak Kecil) yang merupakan panggilan penuh perhatian. Kemudian diberi pemahaman sesuai prosedur makan yang baik yaitu pertama mengucapkan bismillah, yang kedua makan dengan tangan kanan dan ketiga makan dari makanan yang dekat.
2. Mendidik pemuda dengan diskusi dan pancingan pertanyaan.
Contoh ketika pemuda menemui Rasulullah yang meminta agar pemuda tersebut diizinkan berzina. Diungkapkan oleh Abu Umamah ra: “Sesungguhnya pernah ada seorang pemuda yang dating kepada Nabi saw mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, ijinkanlah aku berzina.’ Saat itu, orang-orang membentaknya. Sementara Rasulullah saw menyuruh pemuda itu untuk mendekat dan ditanya, ‘Sukakah engkau kalau ini terjadi pada ibumu?’ ‘Tidak, demi Allah, aku sebagai jaminanmu,’ jawabnya. ‘Demikian pula halnya setiap manusia pasti tidak menyukai hal itu terjadi pada ibu-ibu mereka,’ jelas Rasulullah saw. Kemudian beliau ajukan beberapa pertanyaan lagi, ‘Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada anak perempuanmu?’, ‘terhadap saudara perempuanmu?’, ‘terhadap bibimu?’ Setiap pertanyaan dijawab “tidak” oleh pemuda tadi. Kemudian Rasulullah meletakkan tangannya kepada pemuda itu seraya mengucapkan : ‘Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah hatinya dan peliharalah kemaluannya.’ ”(HR. Ahmad dan Thabrani)
3. Mendidik orang yang tidak memahami aturan dan adab dengan kesabaran.
Seperti pada kisah orang Arab badui yang kencing di masjid. Anas bin Malik ra. menuturkan : "Seorang arab badui pernah memasuki masjid, lantas dia kencing di salah satu sisi masjid. Lalu para sahabat menghardiknya. Namun Nabi saw melarang tindakan para sahabat tersebut. Tatkala orang itu telah menyelesaikan hajatnya, Nabi saw lantas menasehatinya dan memerintah para sahabat untuk mengambil air, kemudian bekas kencing itu pun disiram". (HR. Bukhari dan Muslim)
Contoh ketika Rasulullah melihat anak makan tidak tertib. Umar bin Abi Salamah ra menceritakan, Aku dahulu sewaktu kecil di bawah bimbingan Rasulullah shallallohu alaihi wasallam, sewaktu aku makan tanganku bergerak ke seluruh sisi dari piring besar yang kami gunakan, lalu Rasulullah saw bersabda: “Wahai anak kecil, ucapkanlah basmalah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah yang dekat darimu”. Umar bin Abi Salamah ra berkata sejak saat itu begitulah tata cara aku makan. (HR. Bukhari dan Muslim)
Disini Rasulullah tidak reaktif dengan langsung menghardik dan memarahi anak. Namun Rasul memanggil dulu dengan kalimat “Ya Ghulam” (Wahai Anak Kecil) yang merupakan panggilan penuh perhatian. Kemudian diberi pemahaman sesuai prosedur makan yang baik yaitu pertama mengucapkan bismillah, yang kedua makan dengan tangan kanan dan ketiga makan dari makanan yang dekat.
2. Mendidik pemuda dengan diskusi dan pancingan pertanyaan.
Contoh ketika pemuda menemui Rasulullah yang meminta agar pemuda tersebut diizinkan berzina. Diungkapkan oleh Abu Umamah ra: “Sesungguhnya pernah ada seorang pemuda yang dating kepada Nabi saw mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, ijinkanlah aku berzina.’ Saat itu, orang-orang membentaknya. Sementara Rasulullah saw menyuruh pemuda itu untuk mendekat dan ditanya, ‘Sukakah engkau kalau ini terjadi pada ibumu?’ ‘Tidak, demi Allah, aku sebagai jaminanmu,’ jawabnya. ‘Demikian pula halnya setiap manusia pasti tidak menyukai hal itu terjadi pada ibu-ibu mereka,’ jelas Rasulullah saw. Kemudian beliau ajukan beberapa pertanyaan lagi, ‘Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada anak perempuanmu?’, ‘terhadap saudara perempuanmu?’, ‘terhadap bibimu?’ Setiap pertanyaan dijawab “tidak” oleh pemuda tadi. Kemudian Rasulullah meletakkan tangannya kepada pemuda itu seraya mengucapkan : ‘Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah hatinya dan peliharalah kemaluannya.’ ”(HR. Ahmad dan Thabrani)
3. Mendidik orang yang tidak memahami aturan dan adab dengan kesabaran.
Seperti pada kisah orang Arab badui yang kencing di masjid. Anas bin Malik ra. menuturkan : "Seorang arab badui pernah memasuki masjid, lantas dia kencing di salah satu sisi masjid. Lalu para sahabat menghardiknya. Namun Nabi saw melarang tindakan para sahabat tersebut. Tatkala orang itu telah menyelesaikan hajatnya, Nabi saw lantas menasehatinya dan memerintah para sahabat untuk mengambil air, kemudian bekas kencing itu pun disiram". (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah saw melarang para sahabat untuk reaktif menghardik orang badui karena bisa saja karena kaget, maka air kencing yang najis bisa kena celana atau tempat lain. Selain itu menghentikan kencing seketika bisa berbahaya bagi kesehatan.
Kiranya kita sebagai guru atau orang tua selaku pendidik sangat perlu untuk membaca buku-buku dan mempelajari bagaimana rasulullah dalam mendidik. "Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak berdzikir kepada Allah." (QS. Al Ahzab : 21). []
Kiranya kita sebagai guru atau orang tua selaku pendidik sangat perlu untuk membaca buku-buku dan mempelajari bagaimana rasulullah dalam mendidik. "Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak berdzikir kepada Allah." (QS. Al Ahzab : 21). []
Sumber : Majalah Adzkia Indonesia Edisi 34 | Maret 2011

0 komentar:
Posting Komentar