Senin, 25 Juli 2011

Sekolah itu bernama Ramadhan

Oleh :
Ir. Syarif Ba'asir
Ketua PC Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS Al Baqarah ayat 183)

Puasa telah diwajibkan oleh Allah sejak zaman dahulu menunjukkan adanya hal urgen dan hikmah yang besar. Untuk ummat Muhammad saw berpuasa diwajibkan pada bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan memiliki predikat bermacam-macam seperti Syahrul Mubarok, Syahrul Maghfiroh, Syahrul Quran, dan Syahrut Tarbiyyah. Ramadhan sebagai bulan tarbiyyah ibarat sekolah. Waktu tempuh sekolah Ramadhan hanya satu bulan, namun sedemikan efektifnya sehingga mampu membuat perubahan bagi peserta didiknya.

Ramadhan sebagai sekolah memiliki syarat masuk, proses pendidikan dan hasil lulusan. Syarat masuk sekolah Ramadhan adalah orang beriman, lulusannya orang bertaqwa. Prosesnya ada yang bersifat jasmaniyah dan ruhiyah. Proses jasmaniyah berupa tidak makan dan minum serta hubungan suami istri mulai subuh sampai dengan maghrib. Proses ruhiyah berupa menahan diri dari perbuata tercela dan bersabar dengan perbuatan mulia.

Dampak pendidikan Ramadhan multi dimensi aspek. Dari aspek bioritme jasmani terjadi perubahan pola makan dan tidur menjadikan variatif kehidupan. Aspek ruhani menjadi lebih kuat dengan sholat taraweh, bacaan al quran, doa dan dzikir. Aspek social menumbuhkan empati dan menguatkan interaksi sosial dengan merasakan lapar, sholat taraweh dan lainnya. Kecerdasan emosi dilatih dengan menahan amarah, menjauhi dengki dan pantang mengeluh. Motivasi diasah dengan adanya lailatul qodar yaitu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan.

Bandingkan dengan pendidikan nasional yang tujuan utamanya membentuk manusia bertaqwa, namun ranah kognitif sangat mendominasi, sedangkan afektif belum menjadi pokok utama dan psikomotorik dalam arti penerapan belum menjadi fakta. Kita menyaksikan munculnya problem besar dari mulai pelicin uang masuk sekolah, tawuran pelajar, pergaulan bebas, merendahkan guru, membentak orang tua, mencontek masal dan corat-coret baju dan membuat onar di jalanan pasca kelulusan. Ketika sudah bekerja terjadi hal buruk yang tidak mencerminkan sebagai seorang terpelajar seperti korupsi dan manipulasi.

Ramadhan sebagai suatu sekolah menerima peserta didik semua jenjang usia, dari anak-anak, remaja, dewasa sampai orangtua. Sekolah Ramadhan bukan belajar teori, namun belajar langsung iman dan amal. Di Ramadhan orang merasa berguru langsung dengan Rasulullah saw sebagai uswah dan qudwah. Itu semua merupakan kemurahan Allah SWT yang menjadikan kita mudah beramal dan merasa dekat dengan Allah SWT serta berusaha mengikuti Rasulullah saw.

Di sekolah Ramadhan, peserta didik bukan hanya sebatas mengetahui sesuatu yang baik (knowing), namun berusaha mempraktekkan dan membiasakan kebaikan (habbit forming), yang akhirnya mencintai kebaikan (loving) dan jadilah karakter diri.

Kiat agar ramadhan menjadi sekolah bagi anak-anak kita antara lain sebagai berikut :
1.    Mempersiapkan anak dan keluarga menghadapi datangnya bulan Ramadhan dengan memberikan penjelasasan tentang tata cara puasa, amalan sunnah, keutamaan dan tantangan yang harus kita hindari. Gembirakan anak dengan datangnya Ramadhan dan menyambutnya dengan rencana-rencana positif.
2.    Tumbuhkan kejujuran dan amanah bahwa walau tidak ada orang yang melihat namun tidak boleh mencurangi puasa dengan sedikit saja makan atau minum, karena Allah maha melihat.
3.    Perkuat kecerdasan emosi. Ketika berpuasa tubuh terasa lemah dan lapar biasa mudah emosi, nasehatkan kesabaran, kelemah lembutan dan tumbuhkan rasa empati kepada mereka yang serba kekurangan.
4.    Latih jiwa dermawan dan interaksi sosial dengan mengajak anak untuk berpartisipasi langsung member makan kepada orang yang berbuka puasa, juga ketika memberi zakat fitrah.
5.    Ajarkan kedisiplinan dan ketekunan dengan bangun sahur, membiasakan membaca Al Qur’an, mengikuti shalat taraweh dan shalat subuh berjamaah.
6.    Dorong anak untuk berprestasi dengan meraih lailatul qodar. Ajaklah anak untuk dapat menikmati iktikaf di masjid beberapa hari di 10 hari akhir ramadhan.
7.    Tumbuhkan rasa syukur dengan berdiskusi di sela-sela Ramadhan atau di awal syawal tentang nilai pendidikan dan hikmah yang didapat selama Ramadhan.

Untuk menjalankan 7 kiat tersebut dibutuhkan kemauan dan kesabaran. Untuk itu selaku pendidik (orangtua dan guru) jangan lewatkan sekolah Ramadhan yang sebentar lagi di ambang pintu dengan hal-hal tersebut di atas. Ya Allah berkahilah kami di bulan Sya’ban dan antarkan kami ke bulan Ramadhan. Amiin. []

Sumber : Majalah Adzkia Indonesia Edisi 38 | Juli 2011

Categories: ,

0 komentar:

Posting Komentar