REPUBLIKA.CO.ID,
Oleh: Abdul Ghafur, ST., M.Ed (Alumni Hiroshima University)
Hasil
Ujian Nasional (UN) telah diumumkan. Setelah SMA dan SMP, terakhir
jenjang SD mengikutinya. Saya sebagai orang tua yang anaknya ikut UN SD
hanya menanggapinya biasa-biasa saja. Tak ada rasa khawatir berlebih
kalau anak saya tidak lulus. Begitu juga dengan kecemasan jika nilai
UN-nya jelek sehingga membuatnya susah untuk masuk ke sekolah negeri
pilihan.
Sejak jauh hari, saya memang sengaja telah
mendaftarkannya ke sekolah swasta. Di sana, ia sudah diterima. Tentunya,
harus dengan cara mengelus dada. Mengapa? Karena saya harus merogoh
kocek dalam-dalam untuk membiayai anak saya masuk ke sekolah swasta
tersebut.
Tapi yang hendak saya sampaikan di sini, bukanlah
umbar-mengumbar rasa deg-degan hasil UN anak saya yang sudah lewat.
Justru hasil UN itulah yang menyemburatkan rasa miris. Merujuk informasi
yang saya peroleh, ternyata peringkat 10 besar hasil UN SD di kota saya
tinggal itu didominasi oleh sekolah swasta. Perlu diketahui, saat ini
saya bermukim di Depok. Di daerah ini, hanya ada 2 sekolah negeri saja
yang mampu bersaing masuk di 10 peringkat ini. Tapi itu pun bukan berada
diurutan awal. Hmm...
Informasi yang saya peroleh,
terdapat 405 SD di kota tempat saya tinggal. Dari jumlah tersebut,
sekolah negeri mendominasi secara jumlah. Sekolah swasta hanya beberapa
persennya saja. Dengan komposisi mayoritas, sepatutnya sekolah negeri
yang menguasai peringkat 10 besar. Kenyataannya ternyata tidak demikian.
Prestasi sekolah negeri justru terpuruk. Bukan tahun ini saja, tapi
sudah terjadi padra tahun-tahun sebelumnya.
Faktor apa yang
menjadi penyebabnya? Ada banyak yang bilang karena kesejahteraan guru
swasta lebih tinggi dibanding guru di sekolah negeri. Masa iya? Bukankah
sekarang ini sudah ada sertifikasi guru sehingga membuat kesejahteraan
guru-guru PNS jauh lebih baik dibandingkan dulu?
Lantas benarkah
premis guru swasta itu sungguh bergelimang gaji besar dibandingkan guru
PNS? Ah, siapa bilang mereka lebih sejahtera. Dari hasil bisik-bisik
tetangga terungkap para guru sekolah swasta itu justru banyak yang
'menggemaskan' secara gaji. Padahal, biaya sekolah swasta itu tidaklah
murah. Jadi kemanakah uang itu mengalir? Ya pemilik yayasanlah yang
lebih tahu, tentunya.
Terlepas dari urusan gaji, sesungguhnya
persoalan terpuruknya kualitas sekolah negeri ini tak boleh dibiarkan
begitu saja. Khususnya SD yang menjadi peletak pendidikan dasar. Jika
ini dibiarkan terus, tentu saja hal ini dapat menghancurkan dari segi
sistem dan tujuan pendidikan nasional itu sendiri.
Awal Kehancuran
Kehancuran itu telah dimulai
ketika banyak orang tua yang enggan untuk memasukkan anak-anaknya ke
sekolah negeri. Mereka lebih percaya dan memilih sekolah swasta untuk
pendidikan dasar anak-anak mereka. Saat itulah kian menguatnya keyakinan
sekolah negeri kualitasnya sungguh “mengerikan” bagi masa depan
anak-anak mereka. Alhasil, bisa jadi sekolah-sekolah negeri akan
kehilangan banyak murid. Jika kondisinya demikian, semoga saja kita
tidak terdengar adanya penutupan sekolah negeri.
Di sisi yang
lain, ketika permintaan ke sekolah swasta meningkat hal ini justru
menyisakan persoalan. Bagi orang-orang bermodal besar, ini adalah
peluang yang menggiurkan. Mereka bakal berlomba-lomba mendirikan sekolah
baru karena berpotensi besar menjadi ATM di masa depan. Dalam benaknya,
sekolah adalah kendaraan tepat untuk mendulang rupiah.
Kondisi
ini diperkuat karena tipikal orang tua siswa adalah konsumen yang lemah.
Mereka tidak berkutik jika sekolah swasta meminta biaya ini dan itu.
Keluhan-keluhan dan segala macam curhatan orang tua dibanyak kasus hanya
menjadi obrolan warung kopi yang tidak memberikan efek perubahan
apa-apa. Mereka terperah, tak berdaya dihadapan pengelola yayasan.
Kalau
sudah begini, masyarakat luas yang dirugikan. Mereka tidak bisa lagi
menikmati layanan pendidikan dasar yang murah dan berkualitas.
Pendidikan terkepung oleh naluri-naluri pengejaran profit semata
sekelompok orang. Atau kalau bukan profit yang dikejar maka motif
penanaman ideologi tertentu dari sekelompok gerakan.
Dalam
masyarakat timbul pembedaan-pembedaan golongan. Orang tua yang
berkemampuan secara ekonomi akan memasukkan anaknya ke sekolah bagus dan
mahal. Dan itu identik dengan sekolah yang berkualitas dimana ATM bank
pun disediakan di lokal sekolah. Sedang orang tua yang tidak diuntungkan
secara finansial akan terpaksa menyekolahkan anaknya di sekolah apa
adanya dan murah.
Sebenarnya ujung-ujungnya negara juga yang
rugi. Coba pikirkan, bisa jadi akan banyak masalah sosial akibat
pembedaan kelas masyarakat. Selanjutnya, negara berpotensi kehilangan
anak berbakat potensial yang karena ketidakmampuan ekonomi orang tuanya
pada akhirnya hanya bisa bersekolah dengan kualitas apa adanya.
Kemudian,
negara kehilangan waktu terbaik anak untuk menanamkan sikap
nasionalisme kebangsaan kepada generasi-generasi penerus. Menanamkan
sikap yang paling efektif pada saat anak-anak berada di pendidikan
dasar. Dan masih banyak lagi seperti kehilangan daya beli masyarakat
kelas menengah karena pengeluaran mereka banyak tersedot untuk biaya
sekolah anak.
Oleh karenanya, pendidikan dasar harus diatur benar
tata kelolanya sehingga banyak memberikan manfaat yang besar terhadap
masyarakat dan bangsa. Negara harus memberikan perhatian yang besar
dalam bentuk aksi nyata peningkatan kualitasnya.
Lebih penting
lagi, pendidikan dasar setingkat SD dan SMP harus diproteksi negara dari
serbuan sekolah-sekolah swasta. Rasanya, masih ada waktu untuk
menyelamatkan pendidikan dasar kita. So, sekaranglah waktunya untuk menyelamatkan pendidikan dasar di negeri ini.
Sumber : http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/15/07/15/nri3kt-selamatkan-pendidikan-dasar-kita

Tidak ada komentar:
Posting Komentar