Kamis, 20 November 2014

Memaknai Hijrah

oleh :
Ali Umar Basalamah
Ketua LPP Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto

Tak terasa sudah 1436 tahun yang lalu perjalanan hijrah nabi Muhammad saw dari Mekkah ke Madinah, hijrah mengemban amanah dakwah dan perjuangan menegakkan kalimat Allah yang suci dan mulia, yaitu Islam.

Meninggalkan kesenangan-kesenangan dunia, harta, keluarga, tanah air demi menggapai cita-cita tertinggi dalam kehidupan seorang hamba Allah.

Hijrah bukan sekedar sejarah yang telah usang, akan tetapi terkandung di dalamnya makna yang sangat dalam yang menembus dinding-dinding hati setiap muslim. Hijrah bukan hanya berpindah dari sebuah daerah menuju daerah yang lain, akan tetapi hijrah sesungguhnya adalah perpindahan rohani, perilaku dan kecondongan hati kepada semua yang diridhai Allah swt. Allah berfirman : "Maka bersegeralah kalian berlari menuju Allah swt, karena sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata." (QS. Adz Dzariyat : 50)

Inilah yang dimaksud di dalam hadits, "Barang siapa yang berhijrah kepada Allah dan rasulnya, maka hijrahnya benar-benar kepada Allah dan Rasul-Nya" (HR. Muslim)

Hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan hijrah sepanjang masa. Tak mengenal tempat dan waktu, yang akan selalu ada dalam setiap degup jantung seorang muslim, meluruskannya saat ia menyimpang, mengingatkannya saat ia lupa.

Pintu hijrah yang abadi akan tetap terbuka selama pintu taubat bagi manusia masih terbuka. Hijrah adalah pergerakan yang selalu konsisten dalam kehidupan setiap muslim, perubahan dalam satu keadaan menuju keadaan lain yang lebih baik. Rasulullah saw bersabda : "Akan selalu ada hijrah yang lain setelah sebuah hijrah" (HR Ahmad).

Beliau menambahkan "Hijrah tak akan berhenti, sampai pintu taubat tertutup dan pintu taubat tak pernah tertutup sampai matahari terbit dari sebelah barat." (HR Abu Dawud)

Hijrah tetap akan ada selama masih ada kekafiran dan kemaksiatan, karena hijrah sesungguhnya adalah hijrah dari apa-apa yang dilarang oleh Allah swt, sebagaimana Nabi Muhammad saw :
"Muslim yang sejati adalah muslim yang orang lain selamat dari ucapan dan perilaku buruknya, dan hijrah sejati adalah hijrah dari semua yang dilarang Allah SWT" (HR Bukhari Muslim)

Sebagai seorang muslim kita wajib menghijrahkan niat kita dari godaan riya dan sum'ah, menghijrahkan diri kita dari sikap malas dan menunda-nunda pekerjaan, demikian pula dalam budaya dan konsep hidup.

Dewasa ini masih banyak kita saksikan kaum muslimin berislam hanya di dalam masjid dan kehidupan pribadinya, akan tetapi dalam kehidupan sosial dan pergaulan, mereka masih silau dengan budaya dan pola kehidupan orang-orang yang dimurkai Allah SWT.

Tidak akan sempurna islam dan iman seorang muslim sampai ia benar-benar hijrah kepada Allah SWT dan rasul-Nya dalam pelbagai sisi kehidupannya, pola pikir dan konsep hidupnya. Dengan hijrah inilah akan semakin jelas kemuliaan islam dan keunggulannya dihadapan ummat-ummat yang lain. Mudah-mudahan di awal tahun 1436 ini Allah SWT memberikan hidayah dan inayahnya kepada kita semua untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dan rasul-Nya[]

Sumber : Majalah Adzkia Indonesia Edisi 72 | November 2014


Categories: ,

0 komentar:

Posting Komentar